Awal Yang Indah

Di seperempat malam ini
Aku tertuduk penuh dosa
Di atas permadani mungil 
Bersama kitab yang kuyakini

      Udara yang silih berganti
            Merasuk ketulang-tulangku
      Terasa sejuk bak lemari pendingin di atas hempasan salju-salju kutub
      Lambaian si hijau pun turut memanggilku
      Hingga ku terlarut dalam indahnya
      Nyanyian rerumputan ikut mengiringiku dalam sujud malam
      yang begitu syahdu

Indahnya awal hariku ..
Meski sang surya belum sedikitpun menampakan keberadaannya.

Mungkin Hanya Ini




Bu,
Tak banyak yang bisa ku beri
Mungkin hanya ini

” ingin ku gapai lampion di langit-Nya
Tapi tangan mungil ini tak sampai tujuan,ingin ku gapai segitiga di langit-Nya
Lagi, ku juga tak dapat menyentuhnya.”

Mungkin hanya selembar kertas bertanda
Yang akan ku beri di harimu
Bukan lampion ataupun segitiga di langit-Nya
Bu,
Tunggu malaikat kecilmu ini.
Memakai hitam dan hijau.
Bukan hitam saja untuk mengantar.
Tapi,
Hitam dan hijau bersama jengkol bertali.
Bu,
Tak banyak yang bisa ku beri,
Mungkin hanya ini,,

Pengakuan Dua Anak Kecil

Kamis, 02 Desember 2010, 135.

Cuaca siang itu cukup terik, saya berteduh di halte depan kampus sembari menunggu bus jurusan priuk . Kira-kira 30 menit bus yang saya tunggu tiba.  Berjalan beriringan dengan saya, dua anak laki-laki tanpa sandal, berbaju dekil , membawa kecrekan(botol air mineral diisi beras) dan membawa amplop putih. Mereka menegur saya dengan akrabnya.
“mba mau ke priuk yah”  tanya si kaos merah.
“iyah” jawab saya singkat.
Saya naik dan duduk di baris ketiga dari depan. Lagi, dua anak ini menegur  saya seraya memberi amplop. Tapi tidak saya tanggapi karena pada saat itu saya sedang menelpon. Kemudian mereka bernyanyi, sekitar 2 lagu. Selesai bernyanyi mereka  meminta kembali amplop yang mereka bagikan. Beruntung, saya punya kesempatan untuk bertanya kepada mereka.
 “de, sebenarnya uang yang didapat itu untuk apa dan untuk siapa?”
“untuk beli berasnya mbah, tapi kalo lagi rame ya bisa untuk nyelengin untuk bisa sekolah kaya mba. ” Si kaos merah menjawab dengan kaki goyang-goyang.
“ibu nya kemana?”
“ibu saya kuli nyuci. “jawab si kaos putih
“kalo ibu saya jadi kerja di Arab” kata si kaos merah.
“Bapaknya?”
“bapak saya mah gak ada, saya ajah tinggalnya sama nenek. Terus neneknya lagi sakit.” Kata si kaos merah.
“kalo bapak saya tukang kawin mba. Saya benci sama bapak.” Lanjut si kaos putih dengan wajah yang tampak kesal.
“kalian sekolah?”
“iyah, kan sekolahnya gratis mba. Sayang kalo gak sekolah. Nanti kita jadi orang bodoh. Hehe” jawab si kaos merah sambil tertawa kecil.
“hehehehe..” sambung tawa si kaos putih.
“berarti ngamennya habis pulang sekolah dong?”
“iyah mba” jawab mereka berbarengan.
“turun yuk, nnti keburu naek tol” ajak si kaos merah
“ayo, makasii ya mba..” jawab si kaos putih
“ iyah sama-sama..”
Saya menunduk malu, dan dengan sadar saya menangis. Betapa beruntungnya saya hidup dengan berkecukupan. Punya apa pun yang saya mau. Tapi dua anak kecil ini?? Mereka harus berhadapan dengan surya yang melotot di siang hari untuk membantu orangtuanya. Si merah yang bertanggung jawab atas dirinya dan neneknya dan si putih yang mencari uang untuk jajan dan menabung. Mereka yang menghabiskan waktunya di jalan. Mereka yang hanya punya waktu belajar di sekolah. Dan mereka yang masih dini untuk merasakan getirnya hidup. Hidup seperti roda, itu kata pepatah. Ya, sekarang memang mereka ada di bawah dan suatu saat mereka pasti merasakan enaknya berada di posisi atas.