01.07
|
by Rizky Dwi Ami
Di temani rintik hujan,
Aku menyangga dagu.
Seolah-olah di hadapan ku ada sosoknya.
Dalam angan ku, kita menari di tengah padang hijau.
Hanya berdua.
Meliuk-liuk.
Saling mengejar,dan melempar senyum lebar penuh bahagia.
Tapi aku tersadar, ketika dalam angan ku aku terjatuh.
Sesuatu yang maya melanda hati ku.
Itu hanya angan-angan.
Jiwa ku hampir terlepas,
ketika hampir 10 jam menyangga dagu.
Jiwa ku hampir terlepas,
ketika tahu ia tak akan hadir lagi.
Menyangga dagu ditemani rintikan hujan,
yang hampir membawa nyawa ku lepas dari raga ku.
03.23
|
by Rizky Dwi Ami
Kesunyian yang menemani ku,
Semakin terasa dikala ku menatap wajahnya,
Semua terdiam,
Seolah-olah mulutnya terkunci,
Tak satupun memberi senyum manis ,
Tak satupun membuka mulutnya tuk sekedar basa basi,
Semua geram menatap kearahku,
Mereka yang menyangka ku membunuhnya,
Mereka yang membenci kedatanganku untuknya
Dan,
Mereka pula yang meributkan peninggalannya,
Jasadnya belum dipendam,
Jasadnya belum terbungkus,
Jasadnya masih terbaring kaku,
Tak satupun hati mereka tergugah tentang apa yang ada dihadapannya,
Tak satupun.
Tak satupun kurasa mereka punya hati.
Tak satupun.
03.19
|
by Rizky Dwi Ami
Tangisan langit di waktu senja,
Mengiringi perjalanan pengemudi burung besar menuju tempat terakhirnya.
Tangisan langit di waktu senja,
Mengiringi hujan di pipiku dalam penimbunan
Sang pengemudi yang dibanggakan,
kini telah tertimbun bersama tulang si burung raksaksa
yang terpisah-pisah.
Tertimbun bangkainya dilapisi berlapis-lapis kain suci,
Berhias jasmine yang semerbak.
Hembusan tanah basahpun tercium sampai hati.
Tak ada lagi sumringah di pagi hari,
Karena sang pengemudi telah pergi,
Beriringan dengan derasnya tangisan langit.
03.14
|
by Rizky Dwi Ami
Tangan mungilnya menadah.
Dikala merah menajamkan kilaunya.
Berperang melawan pasir-pasir halus
dan surya yang menyengat,bagai tawon menyengat tubuhnya.
Rengekan, ibaan
mereka tampilkan bersama paketnya.
Ingin rasanya ku dekap mereka dalam hangatnya tubuhku.
Namun,
tembok besar itu menjadi penghalang besar untuk mendekapnya.
03.00
|
by Rizky Dwi Ami
Siang ini aku titipkan kisah ku pada selembar kertas
Kisah perih
Kisah yang diharuskan pergi dengan ikhlas
Pada selembar kertas dengan pena yang telah diawetkan
Aku menitipkan kisah ini
Dengan rasa perih
Rasa perih untuk sebuah kebodohan
Ya, kebodohan memang harus diakhiri.