Berkah Menikah Muda


Suara bel terdengar nyaring dari luar rumah Haji Amirudin. Seperti biasa petugas gerbang pun membukakan pintu dari baja tersebut dan mempersilahkan laki-laki paruh baya dan seorang putranya masuk ke dalam rumah Haji Amirudin yg biasa dipanggil Haji Didin. Petugas gerbang rupanya sudah paham siapa tamu yang datang. Kedua laki-laki tersebut masuk dan memang sedang dinanti oleh keluarga Haji Didin. Riuh ramai suara sambutan dari keluarga Haji Didin. Bincang-bincang pun terlihat akrab, seperti kawan lama yang baru bertemu. 1 jam berlangsung dengan perbincangan dan jamuan hangat dari sang tuan rumah, tamu pun nampak senang dengan suasana yang sangat akrab. Waktu menunjukkan pukul 21.00 tapi tamu belum juga beranjak dari rumah Haji Didin, seperti sedang menanti seorang lagi yang belum hadir.
“ Sabar yah pak Rasyid, Nabila masih dalam perjalanan pulang.” Kata Ibu Hj.Didin
“ Oh iyah, tidak apa-apa kok. Untuk mendapatkan sesuatu memang perlu kesabaran Bu. Iyah kan Pak Haji? “ jawab laki-laki paruh baya itu sembari mengumbar senyum.
Rupanya mereka sedang menunggu anak gadis Bapak Haji Didin yang masih dalam perjalannan pulang. 5 menit kemudian orang yang dinanti datang dengan kekasihnya yang bernama Agus. Terkejut dengan suasana rumah yang tidak biasanya, Nabila pun menyuruh Agus untuk pulang dengan alasan sudah malam. Kemudian Nabila masuk dan menyapa dua tamu yang menanti dirinya.
“ Ini Nabila yah Pak Haji? Cantik yah, cocok nih sama Alvin.” Canda Bapak Haji Rasyid
“ Iyah Pak Haji, anak saya memang cantik. Bil, yang disebelah pak haji Rasyid namanya Alvin.” Sahut Ayah Nabila
“ Nabila,” sapa Nabila sembari mengulurkan tangannya.
“Alvin.“ jawab Alvin
Mereka pun terlarut dengan perbincangan yang tambah hangat. Nabila melirikkan matanya kea rah jam dinding yang menempel di ruamg tamu. Waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB Nabila pun pamitan untuk alasan beristirahat.
“ Yah, Bila ke kamar dulu yah. Agak capek. “ ujar  Nabila
“ Oh, ya sudah. Selamat beristirahat ya Nabila. Kami juga mau pamitan nih pak Haji. Sudah malam juga. “ jawab Bapak Haji Rasyid seraya berpamitan.
“ Maaf nih Ji, tidak bisa kasih apa-apa. Hanya sekedar jamuan biasa.” Ujar Ayah Nabila
“ Ooh, ini sudah lebih dari cukup Pak Haji. Gampang nanti kita mampir lagi. Membicarakan tentang acara anak kita” Sahut Ayah Alvin sembari menyunggingkan pipinya.
“ Mari pak haji kita pamit dulu. Mari bu, neng Billa saya pamit dulu. Gampang mampir lagi” pamit Alvin
“ Iyah, makasih yah sudah mau mampir. “ sahut Nabila.
“ Mari pak haji, assalamu’alaikum.” Sahut Bapak Haji Rasyid.
“ Wa’alaikum salam.” Jawab Nabila bersamaan dengan orangtuanya.
Kemudian Nabila masuk ke kamar dan menguncinya. Seolah tidak mau diganggu oleh siapa pun, ia memutar music dengan volume yang cukup memekikkan telinga.
Pukul 04.30 suara Ibu Nabila memecahkan anak, menantu serta satu orang cucunya, kecuali Nabila. Karena memang Nabila adalah satu-satunya anak mereka yang sulit dibangunkan, ditambah lagi dengan musik yang masih mengurung telinganya. Untung saja pintu kamar Nabila tidak dikunci, sehingga memudahkan ibunya untuk masuk dan memecahkan tidur anaknya tersebut. Berebut kamar mandi pun selalu tejadi di pagi hari, maklum saja di rumah yang berisi delapan orang itu hanya berdiri 3 kamar mandi.
Selesai mandi, keluarga besar itu makan pagi bersama seperti biasanya. Tapi kali ini ada celetukan menggelikan dari seorang kakak Nabila bernama Nirwan serta dilanjutkan lagi oleh kakaknya yang satu lagi.
“ Ciee, Billa mau nikah nih akhir tahun. Minggu depan udah wisuda, waah sisanya untuk persiapan pernikahan nih. hahhaha” Celetuk kakak pertamanya
“ Sama siapa mas? Yang kemarin yah? Hahaha” tambah kakak keduanya.
“ Diih reseh lo pada!” balas Nabila dengan wajah kesal.
“ Waduh si Agus dikemanain dong? Dibuang ke empang Bil? “ ujar kakak iparnya.
“ Bodo amat, siapa juga yang mau nikah muda! Aku tuh masih mau berkarier” jawab Bila ketus sembari memakai tas dan berangkat.
“ Jadi ke butik Bil?!” ujar sang Ibu.
“ Iyah jadi Bu, udah janji sama desainernya pagi. Bila berangkat yah  Bu, Yah. Dan kalian semua yang lagi pada makan! Assalamu’alaikum.” pamit Nabila.
“ Berangkat sama siapa Bil?” Tanya Ayahnya
“ Sama Aguuuuuuuuuuuuus. “ jawab Nabila sembari menutup pintu.

Dalam perjalanan menuju butik tempatnya memesan baju untuk wisuda Nabila terdiam dan bingung bagaimana ia harus mengatakan hal perjodohannya dengan Alvin, pria pilihan orangtuanya yang baru saja ia ketahui semalam. Hampir 15 menit keduanya bungkam, entah apa yang membuat Agus ikutan diam seperti Nabila. Nabila pun memutar otak untuk memulai pembicaraannya yang agaknya menyakitkan untuk Agus.
“ Gus, aku mau ngomong” ujar Nabila.
“ Ngomong apa sih sayang” sahut Agus.
“ Aku dijodohin sama orangtua ku. “ ujar Nabila dengan wajah takut.
“ Oh, bagus dong. “ jawab Agus singkat.
“ Kok Bagus? Kamu gak sayang sama Aku lagi Gus? “ Tanya Nabila
“ Sayang kok, tapi mau gimana lagi. Itu kan pilihan orangtua kamu. Mana mungkin aku bantah. Bisa gak bahagia kalau kita ngebantah maunya orangtua. Gak mau kan dibilang anak durhaka. “ jawab Agus
“ Iyah sih, tapi kan Aku gak cinta sama Alvin!” ujar Nabila sembari menangis.
“ Oh, namanya Alvin. Bagus juga. Yang kemarin ada di rumah itu yah? Bil,(memberhentikan mobil di pinggir jalan) dengar aku, cinta itu bisa datang seiring berjalannya kebersamaan kalian. Aku yakin cinta yang besar itu pasti ada di hati kamu untuk Alvin.   “ jawab Agus
“ Iyah Gus. Tapi kan, “ ujar Nabila.
“ Jangan pakai tapi Bil, jalani saja apa yang ada, mungkin ini sudah jalan Tuhan untuk hidup kamu dan aku. Yuk turun, udah sampe tuh. Nih tissue, jelek ah kamu kalo nangis” ujar Agus.
Agus terlihat tegar menerima kenyataan pahit, ia bepikir bijak untuk sebuah masalah hati yang menyangkut hidupnya. Ia bukan orang yang egois, ia terlihat dewasa dan berusaha membuat Nabila lebih santai lagi menghadapi perjodohannya.
Setelah selesai mengukur baju untuk wisudanya minggu depan, Agus membawa Nabila ke restoran seafood di daerah kemang. Di tempat itu Agus menasihati Nabila agar mau menerima apa yang diperintahkan orangtuanya. Nabila pun lebih merasa tenang, karena Agus tidak bertindak sebagaimana yang ia pikirkan sebelum mengutarakan rencana Orangtuanya itu. Senyum Nabila pun agak sedikit mengembang dengan candaan Agus yang membawa suasana tampak lebih santai.
Selesai makan, Agus pun mengantarkan Nabila pulang. Namun, Agus tidak mengantarkan sampai depan gerbang, ia hanya mengantarkan nabila sampai halte dekat rumahnya.
“ Bil, maaf yah aku gak bisa nganter sampe rumah. Umi ku minta jemput” ujar Agus
“ Oh, gak apa-apa kok. Makasii yah udah nganterin aku hari ini. Maafin Aku yah Gus, aku udah buat kamu kecewa. “ ujar nabila.
 “ (tersenyum sembari menganggukkan kepala) jaga diri baik-baik yah Bil, sampe ketemu di Auditorium Utama minggu depan. “ kata Agus, seraya memacu mobilnya.

Setibanya di rumah, nabila pun disambut dengan olok-olok kedua kakaknya. Tapi tak sedikit pun ia menggubris olokan mereka. Nabila langsung menuju kamar dan tidur untuk sejenak melepaskan pikirannya. Waktu menunjukkan pukul 19.00 itu tandanya waktu makan malam bersama keluarganya. Nabila pun bangun dan segera turun untuk makan malam seperti biasa.
“ Sehat Bil? Hahaha” olok sang Kakak
“ Mas liatnya aku sehat atau sakit? Apa jangan-jangan mas yang sakit? HAHA! “  sahut Nabila.
“ Sudah-sudah Wan, nanti kita bicarakan habis makan yah.” Ujar sang Ibu.
Kurang lebih 30 menit mereka menyantap makan malam dan kemudian langsung beranjak ke ruang keluarga untuk membicarakan perjodohan Nabila dan Alvin. Awalnya Nabila menolak perjodohan ini, dengan alasan tidak mau menikah muda. Tapi ia teringat kata-kata Agus untuk tidak membantah Orangtua kalau kita mau bahagia. Nabila merasa bimbang, di satu sisi ia tidak mau melawan perintah Orangtuanya tapi di sisi lain ia tak punya rasa cinta untuk Alvin.
Diseperempat malam Nabila terbangun dan melaksanakan sholat tahajud, meminta yang terbaik dari yang baik.
Doa Nabila “ Ya Allah Ya Tuhanku, berikanlah jalan yang terbaik untuk hidup ku kelak. Jadikanlah aku seorang yang taat pada perintah Mu dan taat pada kedua orangtua ku. Ya Allah, jika pilihan orangtua ku yang terbaik maka mantapkan hati ini untuk berkata iya. Berikanlah yang terbaik atas segala doa ku Ya Allah. Amin.
Selama tiga hari berturut-turut Nabila melakukan sholat tahajud dan membaca doa itu setelahnya. Kemudian di hari ketiga Dua Nabila memantapkan diri untuk menerima perintah Orangtuanya. Ini sudah jalan, pikirnya.
Hari wisuda pun tiba, Nabila senang karena ini adalah momen yang ia tunggu selama 3 tahun setengah. Tepat di umur yang ke 21 Nabila menyelesaikan kuliah dan menepati waktu kuliah dengan predikat lulusan terbaik. Tapi, ada sedikit yang berbeda. Hari ini Nabila tidak melihat batang hidung Agus. Kemana dia? Info dari teman mengatakan bahwa kelulusan Agus tertunda karena beberapa hal. Pikiran tentang Agus pun hilang bersama angin waktu itu.
Malam harinya di kediaman Orangtua Nabila diadakan pertunangan antara Nabila dan Alvin, dari raut keduanya tampak bahagia. Yang mulanya Nabila tidak senang, kini terlihat senang sekali. Kedua Orangtua dan keluarga yang lainnya dari masing-masing pihak pun segera menetapkan hari bahagia untuk anaknya. Dan dipilihlah bulan Juni tanggal 12 sebagai hari pernikahan Nabila dan Alvin. Sekitar seribu undangan mereka sebarkan, termasuk untuk Agus.
Acaranya sangat sederhana, ramai dan banyak sahabat serta kerabat yang datang. Tetapi, dari sekian ratus nama yang tertera di buku tamu tak satu pun tertera nama Agus dan keluarganya. Mungkin sedang berhalangan hadir, pikir Nabila dan keluarganya.
Dua tahun pernikahan mereka lalui dengan bahagia, Nabila dan Alvin pun dikaruniai satu orang putri cantik bernama Mazaya Zahira Alvinabila nama yang cantik untuk seorang putri.
Cinta itu memang datang seiring berjalannya waktu, Nabila bahagia bersuamikan Alvin yang penuh dengan kasih sayang dan kesetiaan begitu pula Alvin yang bahagia beristrikan Nabila yang sangat menjaga keutuhan rumah tangganya.
Seiring berjalannya waktu, kehidupan Nabila dan Alvin terlihat sangat sejahtera dan bahagia dengan ditambahnya satu orang putra. Dalam bidang ekonomi pun sangat berlebih dan patut disyukuri. Alvin mempunyai sebuah yayasan haji dan Nabila membangun sebuah panti jompo serta pabrik kecil yang memproduksi tas daur ulang untuk lapangan kerja bagi ibu-ibu yang tinggal berdekatan dengan mereka. Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi anak yang sholeh dan patuh kepada Orangtuanya.
Di setiap renungan malamnya Nabila selalu bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini, ini adalah berkah dari perjodohan yang awalnya tidak ia kehendaki. Menikah muda bukanlah suatu momok yang menakutkan. Ini berkah bagi Nabila dan keluarganya.
Rizki Dwi 

Menyangga Dagu

 Di temani rintik hujan,
Aku menyangga dagu.
Seolah-olah di hadapan ku ada sosoknya.
Dalam angan ku, kita menari di tengah padang hijau.
Hanya berdua.
Meliuk-liuk.
Saling mengejar,dan melempar senyum lebar penuh bahagia.
Tapi aku tersadar, ketika dalam angan ku aku terjatuh.
Sesuatu yang maya melanda hati ku.
Itu hanya angan-angan.
Jiwa ku hampir terlepas,
 ketika hampir 10 jam menyangga dagu.
Jiwa ku hampir terlepas,
ketika tahu ia tak akan hadir lagi.
Menyangga dagu ditemani rintikan hujan,
yang hampir membawa nyawa ku lepas dari raga ku.

Tak Satupun

Kesunyian yang menemani ku,
Semakin terasa dikala ku menatap wajahnya,
Semua terdiam,
Seolah-olah mulutnya terkunci,
Tak satupun memberi senyum manis ,
Tak satupun membuka mulutnya tuk sekedar basa basi,
Semua geram menatap kearahku,

Mereka yang menyangka ku membunuhnya,
Mereka yang membenci kedatanganku untuknya
Dan,
Mereka pula yang meributkan peninggalannya,

Jasadnya belum dipendam,
Jasadnya belum terbungkus,
Jasadnya masih terbaring kaku,
Tak satupun hati mereka tergugah tentang apa yang ada dihadapannya,
Tak satupun.
Tak satupun kurasa mereka punya hati.
Tak satupun.

Tangis

Tangisan langit di waktu senja,
Mengiringi perjalanan pengemudi burung besar menuju tempat terakhirnya.
Tangisan langit di waktu senja,
Mengiringi hujan di pipiku dalam penimbunan

Sang pengemudi yang dibanggakan,
kini telah tertimbun bersama tulang si burung raksaksa
yang terpisah-pisah.
Tertimbun bangkainya dilapisi berlapis-lapis kain suci,
Berhias jasmine yang semerbak.
Hembusan tanah basahpun tercium sampai hati.

Tak ada lagi sumringah di pagi hari,
Karena sang pengemudi telah pergi,
Beriringan dengan derasnya tangisan langit.

Si Mungil

Tangan mungilnya menadah.
Dikala merah menajamkan kilaunya.
Berperang melawan pasir-pasir halus
dan surya yang menyengat,bagai tawon menyengat tubuhnya.

Rengekan, ibaan
mereka tampilkan bersama paketnya.
Ingin rasanya ku dekap mereka dalam hangatnya tubuhku.
Namun,
tembok besar itu menjadi penghalang besar untuk mendekapnya.

Menitip Kisah

Siang ini aku titipkan kisah ku pada selembar kertas
Kisah perih
Kisah yang diharuskan pergi dengan ikhlas
Pada selembar kertas dengan pena yang telah diawetkan
Aku menitipkan kisah ini
Dengan rasa perih
Rasa perih untuk sebuah kebodohan
Ya, kebodohan memang harus diakhiri.



Ingin Ku Rangkum, tapi Sedikit.

Malam ini ku ambil secarik kertas.
Hati ku ingin menuangkan keindahan selama 5 tahun.
Tapi jemari ku berkata lain “semuanya tak akan muat ditumpahkan di  tubuhnya yang hanya selembar itu, ambilah teman ku yang lain agar bisa merasakan indahnya yang kau tulis.”
Tapi tak ku turuti, karena tidak mungkin semua akan ku tulis.
Yang berakhir bukan yang indah, tapi yang buruk sekaligus pahit, bukan manis seperti orang-orang yang mengakhirinya dengan manis.
Ini hanya sekejap untuk ku.
Seperti mengedipkan mata ketika debu menyusup di pinggirannya.
Yang indah hanyalah ketika ia melukiskan nama ku pada awan,
Yang indah hanyalah ketika ia membuat ku tersenyum
Hanya itu, selebihnya tidak indah dan tidak tersenyum.
Inilah rangkuman untuk lima tahun yang lalu yang begitu getir.

Di 05 pada 01 2010 untuk Mereka yang kelima.


Siang itu, Rizal menelpon Kania dengan tujuan akan mengajak Kania kencan. Kania merasa senang karena pikirnya ini adalah tahun kelima mereka bersama-sama dan akan diadakan pesta perayaan seperti tahun sebelumnya. Kania bergegas mandi dan memakai baju baru yang dibelikan oleh Rizal sewaktu Rizal mengantar penumpang ke Yogyakarta. Sambil menunggu jemputan, Kania seperti sosok perempuan yang baru melihat kaca. Berdirinya ia di depan kaca sembari meliuk-liukkan tubuhnya bak peragawati, 10 menit kemudian jemputan datang, tapi yang menjemputnya bukan Rizal melainkan Sigit, sahabat Rizal yang bermukim di dekat rumah Kania. Kania dan Sigit tampak akrab, karena memang sudah saling kenal. Kurang lebih 2 jam berada di dalam mobil Toyota Rush Sigit membangunkan Kania yang tertidur. Kania terkejut karena ia tidak menyangka akan dibawa ke Bandara. Kemudian, keduanya turun dan sigit menyuruh Kania untuk menemui Rizal. Kania pun dengan senang hati berjalan menuju tempat yang dipilih oleh Rizal.
Di kursi warna merah dekat toko donat Rizal duduk sambil menyeruput vanilla latte yang ia pesan di toko tempat jual donat itu. Dengan penuh semangat Kania menyapa Rizal dengan panggilan kesayangannya.

“ Mas Icaaaaall..”
“ Duduk de!” cetus Rizal pada Kania dengan senyum yang pelit.
“ Kok disini sih mas? Gak di Lippo ajah?”  protes dari Kania yang minta pindah tempat.
“ Jam 8 Mas mau terbang ke Medan, jadi gak bisa jauh-jauh dari bandara.” Ujar Rizal
“ Trus aku pulang sama siapa?” Tanya Kania
“ Nanti Mas anter!” jawabnya dengan ketus
“ Trus?” Tanya Kania dengan wajah bingung.

5 menit Rizal dan Kania tanpa komunikasi dan tiba-tiba Rizal mendaratkan bibirnya di kening Kania sambil berkata “ met lima tahunan ya de” . Setelah saling memberi ucapan Rizal mengembalikan situasi seperti pertama bertemu tadi, dengan wajah dingin dan sedikit bicara. Kemudian Rizal menyuruh Kania untuk mengikutinya berjalan menuju ke tengah lapangan terbang sembari menatap langit yang mataharinya hampir bersembunyi.

“ de, coba tatap langitnya. Indah banget kan? Itu kita waktu 4 tahun yang lalu.” Ujar Rizal
“ lah, emang sekarang enggak? Kan sm ajah Mas.”  dengan jemari yang mencubit kecil perut Rizal.
Tidak lama kemudian Rizal menawab,
“ sekarang beda de, rasa yang dulu sekarang pudar.” Ujar Rizal
Dengan wajah kaget sembari menatap Rizal, Kania menanyakan apa maksud dari pernyataan Rizal, tapi dijawabnya dengan kalimat yang membuat Kania terenyuh.

“ hubungan ini memang harus berakhir De, Mas gak mau kamu sakit hati terus karena ulah Mas. Mas tau kamu pasti kaget, tapi Mas pikir ini yang terbaik untuk Mas sama Ade. Mas gak bisa kasih kado apa-apa untuk yang terakhir ini. Mungkin perjalanan kita ke Yogya kemarin selama 3 hari adalah kado di tahun kelima hubungan kita ini. Maafin Mas yah.” Jawab Rizal sembari menyium kepala Kania seraya masuk ke kantornya.

Kania hanya terdiam di bawah langit yang mataharinya sudah hilang, air matanya tidak menetes sedikit pun di tanah Bandara. Ia menata hatinya untuk ikhlas menerima kado terburuk.
15 menit kemudian Rizal menemui Kania kembali, tapi kali ini ia tidak sendiri. Rizal ditemani seorang wanita berhak tinggi yang mengaku bernama Aprilia. Sosok racun dalam hubungan Rizal dan Kania. Dengan santai Aprilia memberikan tissue kepada Kania. Mungkin dipikirnya Kania menangis setelah diputuskan oleh Rizal. Tidak! Kania tidak menangis! Kania tidak menunjukan kesedihannya di depan umum dan bersikap dewasa dalam menghdapai kenyataan pahit yang ia alami.
Rizal pun menepati janjinya untuk mengantarkan Kania. Rizal mengantar Kania bersama Aprilia. Seperti biasa, Rizal membukakan pintu tetapi ketika Kania melangkah menuju pintu depan dari samping kanan Apriia menyerobot masuk.

“ Kamu dibelakang yah, kan kamu bukan pacarnya Mas Rizal lagi.” Ujar Aprilia dengan nada menyindir.
“ oh iya lupa! “ Jawab Kania dengan nada yang sama.

Selama perjalanan menuju rumahnya, Kania berpura-pura tidur karena tidak mau mendengar sindiran-sindiran dari si racun itu. Kania mendengarkan perbincangan mereka yang merencanakan pernikahan dan segala jenisnya. Hatinya makin teriris dan mau tahu seberapa jauh mereka berhubungan hingga membicarakan pernikahan.
Sampai di halte Polres, Rizal membangunkan Kania yang dipikirnya sedang tidur, dan ketika Kania membuka matanya ternyata Rizal tidak mengantarnya sampai ke rumah. Hanya sampai halte, dan jarak dari halte ke rumahnya cukup jauh. Ini bukan Rizal yang sesungguhnya. Dulu Rizal tidak seperti ini, terlalu aneh pikirnya. Kania pun turun dari mobil Rizal dan berjalan menuju lampu merah tempatnya biasa menunggu angkutan umum. Beberapa menit sebelum Kania berjalan menuju lampu merah, Rizal menarik tangan Kania dan mengusapkan beberapa kata. 

“ Maaf de, Mas cuma bisa anter sampe sini, takut gak keburu sampe bandara lagi.” Ujar Rizal.
“ Makasii ya Mas. Ini indah banget untuk Aku.” Lanjut Kania seraya menyebrang.

Diperjalanan, Kania berusaha menenangkan hatinya dan menetralkan kondisi wajahnya yang tampak kesal setelah pertemuannya dengan Rizal. Ia berusaha untuk menghadapinya dengan lapang dada dan bersikap tidak seperti anak ABG yang uring-uringan setelah putus dengan pacarnya. Semua memang sudah berakhir, dan harus dilupakan meski sulit. Tuhan punya rencana indah untuk Kania. Mungkin Rizal bukanlah sosok laki-laki yang baik. Dan bisa jadi bukan Kania lah yang terbaik untuk Rizal.

Kata usai diucapkan ketika matahari mulai menunduk.
Bandara jadi saksi usainya cinta  ini, hampir 5 tahun saling menjaga kemudian runtuh sia-sia  karena hadirnya orang lain yang menjadi racun dihubungan mereka.


 Rizki Dwi Ami