Di 05 pada 01 2010 untuk Mereka yang kelima.


Siang itu, Rizal menelpon Kania dengan tujuan akan mengajak Kania kencan. Kania merasa senang karena pikirnya ini adalah tahun kelima mereka bersama-sama dan akan diadakan pesta perayaan seperti tahun sebelumnya. Kania bergegas mandi dan memakai baju baru yang dibelikan oleh Rizal sewaktu Rizal mengantar penumpang ke Yogyakarta. Sambil menunggu jemputan, Kania seperti sosok perempuan yang baru melihat kaca. Berdirinya ia di depan kaca sembari meliuk-liukkan tubuhnya bak peragawati, 10 menit kemudian jemputan datang, tapi yang menjemputnya bukan Rizal melainkan Sigit, sahabat Rizal yang bermukim di dekat rumah Kania. Kania dan Sigit tampak akrab, karena memang sudah saling kenal. Kurang lebih 2 jam berada di dalam mobil Toyota Rush Sigit membangunkan Kania yang tertidur. Kania terkejut karena ia tidak menyangka akan dibawa ke Bandara. Kemudian, keduanya turun dan sigit menyuruh Kania untuk menemui Rizal. Kania pun dengan senang hati berjalan menuju tempat yang dipilih oleh Rizal.
Di kursi warna merah dekat toko donat Rizal duduk sambil menyeruput vanilla latte yang ia pesan di toko tempat jual donat itu. Dengan penuh semangat Kania menyapa Rizal dengan panggilan kesayangannya.

“ Mas Icaaaaall..”
“ Duduk de!” cetus Rizal pada Kania dengan senyum yang pelit.
“ Kok disini sih mas? Gak di Lippo ajah?”  protes dari Kania yang minta pindah tempat.
“ Jam 8 Mas mau terbang ke Medan, jadi gak bisa jauh-jauh dari bandara.” Ujar Rizal
“ Trus aku pulang sama siapa?” Tanya Kania
“ Nanti Mas anter!” jawabnya dengan ketus
“ Trus?” Tanya Kania dengan wajah bingung.

5 menit Rizal dan Kania tanpa komunikasi dan tiba-tiba Rizal mendaratkan bibirnya di kening Kania sambil berkata “ met lima tahunan ya de” . Setelah saling memberi ucapan Rizal mengembalikan situasi seperti pertama bertemu tadi, dengan wajah dingin dan sedikit bicara. Kemudian Rizal menyuruh Kania untuk mengikutinya berjalan menuju ke tengah lapangan terbang sembari menatap langit yang mataharinya hampir bersembunyi.

“ de, coba tatap langitnya. Indah banget kan? Itu kita waktu 4 tahun yang lalu.” Ujar Rizal
“ lah, emang sekarang enggak? Kan sm ajah Mas.”  dengan jemari yang mencubit kecil perut Rizal.
Tidak lama kemudian Rizal menawab,
“ sekarang beda de, rasa yang dulu sekarang pudar.” Ujar Rizal
Dengan wajah kaget sembari menatap Rizal, Kania menanyakan apa maksud dari pernyataan Rizal, tapi dijawabnya dengan kalimat yang membuat Kania terenyuh.

“ hubungan ini memang harus berakhir De, Mas gak mau kamu sakit hati terus karena ulah Mas. Mas tau kamu pasti kaget, tapi Mas pikir ini yang terbaik untuk Mas sama Ade. Mas gak bisa kasih kado apa-apa untuk yang terakhir ini. Mungkin perjalanan kita ke Yogya kemarin selama 3 hari adalah kado di tahun kelima hubungan kita ini. Maafin Mas yah.” Jawab Rizal sembari menyium kepala Kania seraya masuk ke kantornya.

Kania hanya terdiam di bawah langit yang mataharinya sudah hilang, air matanya tidak menetes sedikit pun di tanah Bandara. Ia menata hatinya untuk ikhlas menerima kado terburuk.
15 menit kemudian Rizal menemui Kania kembali, tapi kali ini ia tidak sendiri. Rizal ditemani seorang wanita berhak tinggi yang mengaku bernama Aprilia. Sosok racun dalam hubungan Rizal dan Kania. Dengan santai Aprilia memberikan tissue kepada Kania. Mungkin dipikirnya Kania menangis setelah diputuskan oleh Rizal. Tidak! Kania tidak menangis! Kania tidak menunjukan kesedihannya di depan umum dan bersikap dewasa dalam menghdapai kenyataan pahit yang ia alami.
Rizal pun menepati janjinya untuk mengantarkan Kania. Rizal mengantar Kania bersama Aprilia. Seperti biasa, Rizal membukakan pintu tetapi ketika Kania melangkah menuju pintu depan dari samping kanan Apriia menyerobot masuk.

“ Kamu dibelakang yah, kan kamu bukan pacarnya Mas Rizal lagi.” Ujar Aprilia dengan nada menyindir.
“ oh iya lupa! “ Jawab Kania dengan nada yang sama.

Selama perjalanan menuju rumahnya, Kania berpura-pura tidur karena tidak mau mendengar sindiran-sindiran dari si racun itu. Kania mendengarkan perbincangan mereka yang merencanakan pernikahan dan segala jenisnya. Hatinya makin teriris dan mau tahu seberapa jauh mereka berhubungan hingga membicarakan pernikahan.
Sampai di halte Polres, Rizal membangunkan Kania yang dipikirnya sedang tidur, dan ketika Kania membuka matanya ternyata Rizal tidak mengantarnya sampai ke rumah. Hanya sampai halte, dan jarak dari halte ke rumahnya cukup jauh. Ini bukan Rizal yang sesungguhnya. Dulu Rizal tidak seperti ini, terlalu aneh pikirnya. Kania pun turun dari mobil Rizal dan berjalan menuju lampu merah tempatnya biasa menunggu angkutan umum. Beberapa menit sebelum Kania berjalan menuju lampu merah, Rizal menarik tangan Kania dan mengusapkan beberapa kata. 

“ Maaf de, Mas cuma bisa anter sampe sini, takut gak keburu sampe bandara lagi.” Ujar Rizal.
“ Makasii ya Mas. Ini indah banget untuk Aku.” Lanjut Kania seraya menyebrang.

Diperjalanan, Kania berusaha menenangkan hatinya dan menetralkan kondisi wajahnya yang tampak kesal setelah pertemuannya dengan Rizal. Ia berusaha untuk menghadapinya dengan lapang dada dan bersikap tidak seperti anak ABG yang uring-uringan setelah putus dengan pacarnya. Semua memang sudah berakhir, dan harus dilupakan meski sulit. Tuhan punya rencana indah untuk Kania. Mungkin Rizal bukanlah sosok laki-laki yang baik. Dan bisa jadi bukan Kania lah yang terbaik untuk Rizal.

Kata usai diucapkan ketika matahari mulai menunduk.
Bandara jadi saksi usainya cinta  ini, hampir 5 tahun saling menjaga kemudian runtuh sia-sia  karena hadirnya orang lain yang menjadi racun dihubungan mereka.


 Rizki Dwi Ami
0 Responses